Pemulangan 91 spesies endemik Indonesia dari Filipina

TRIBUNNEWS.COM-Menteri Penindakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Hutan (Gakkum) Rasio Ridho Sani dan Bitung Maximiliaan J. Walikota Reptil, Mamalia dan Aves (Burung) di Bitung, Provinsi Sulawesi Utara (Kamis 30/7) .

Satwa yang sebelumnya diselundupkan ke Filipina meninggalkan Davao, Filipina pada pukul 19.00 tanggal 27 Juli 2020. Pada tanggal 30 Juli 2020, WITA tiba di Bitung, Sulawesi Utara. Pelabuhan.

— Satwa ini akan diobservasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki di Bitung hingga siap untuk dilepasliarkan. Selain itu, General Manager Gakkum dan Walikota Bitung mengunjungi Balai Penyelamatan Satwa Tasikoki untuk proses pemulihan sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Rasio Sani mengatakan, repatriasi dilakukan oleh Direktur Badan Perlindungan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KKSD) KLHK Indra Eksploitasi, yang juga merupakan Badan Pengelola (MA) CITES Indonesia.

“Saat direksi KKH Indra mendapat informasi dari MA CITES di Filipina tentang hewan yang disita pada 8 April 2019 dan perlu dipastikan asal usulnya. Identifikasi spesies asal hewan asal Indonesia bagian timur meliputi walabi, kasuari Ayam dan Julang Papua “, terangnya. Pemulangan kemudian dapat dilakukan setelah ada keputusan pengadilan kota Matic. Matic memerintahkan pemerintah Filipina untuk mengembalikan 134 hewan hidup kepada pemerintah Tunisia India pada 14 Oktober 2019. Menurut Pasal 7 Konvensi dan Pasal Conf Konvensi Perdagangan Spesies Langka. Pada 17.8, setelah pertemuan bilateral antara Konvensi Konservasi Satwa Liar Indonesia dan Konvensi Konservasi Satwa Liar Filipina, kedua belah pihak sepakat untuk mengembalikan satwa liar tersebut ke Indonesia. KSDAE, KLHK, Kementerian Luar Negeri melalui perwakilan Indonesia di Jenewa. Administrasi Umum Manila, Davao dan Astara, Kementerian Keuangan (Administrasi Umum Bea Cukai), Kementerian Pertanian (Biro Karantina Hewan dan Kesehatan Hewan), Pemerintah Kota Bitong dan Yayasan Masarang (PPS Tasikoki), ”Direktur Jenderal Gakum Kata Rasio Sani, konsistenlah menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

“Kami tidak akan berhenti menuntut para pelaku perburuan dan kejahatan perdagangan. Hewan dan tumbuhan ilegal. Kejahatan perdagangan satwa liar ilegal ini merupakan kejahatan transnasional yang melibatkan aktor negara. Oleh karena itu, kerja sama internasional telah kami lakukan, khususnya terkait dengan pemulangan hewan-hewan tersebut. Kami juga bekerja sama dengan banyak negara, termasuk Interpol, untuk mengakhiri kejahatan transnasional ini. Dalam beberapa tahun terakhir, KLKL telah berhasil mengadili lebih dari 300 kasus kejahatan hewan dan tumbuhan. Ia menambahkan, pelaku kejahatan tersebut akan dihukum lima (lima) tahun penjara. -Rasio Sani atas nama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perlindungan satwa tersebut, khususnya melalui perwakilan diplomatik Indonesia di Jenewa, Manila, Davao dan Astara kepada Kementerian Luar Negeri, Kementerian Keuangan (Administrasi Umum Kepabeanan), Kementerian Pertanian (Biro Karantina Hewan dan Dinas Kesehatan Hewan), Pemerintah Kota Bitong dan pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan namanya secara individu, termasuk Yayasan Masarang (PPS Tasikoki).

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *